Seperti yang kita ketahui Hypermart adalah
Perusahaan Retail yang besar di
Indonesia yang termasuk dalam Pasar
Grosir Modern, dengan
pelayanan yang bersifat
self service. Dengan ramainya
persaingan di industri pasar grosir tentunya memerlukan analisa untuk dapat
bisa bersaingan dengan perusahaan lainnya.
Analisa yang dipakai biasanya adalah Five Forces .
Analisis ini menggunakan
lima faktor utama
untuk menganalisis industri
yang terdiri atas
bargaining power of
buyers, bargaining power
of suppliers, threat
of new entrants,
threat of new
substitute products, dan rivalry
among firms. Kelima faktor
tersebut dimaksudkan untuk menilai
intensitas persaingan, potensi
laba atau profitabilitas industri,
dan untuk menilai
menarik atau tidaknya
suatu industri (degree
of attractiveness).
1. PERSAINGAN ANTAR PERUSAHAAN (RIVALRY AMONG
EXISTING FIRMS)
Persaingan antar perusahaan di dalam industri bisnis
retail supermarket dewasa ini sangatlah ketat. Terdapat beberapa perusahaan
lain selain Hypermart yang juga menggeluti bisnis retail ini, sebut saja
Carrefour, Hero, Giant dan Lotte Mart yang merupakan perusahaan-perusahaan
terbesar dalam bisnis retail supermarket di Indonesia. Tingkat pertumbuhan
masing-masing perusahaan pun setiap tahunnya cenderung sama, seolah saling
mengejar satu sama lain agar tidak tertinggal. Hypermart pada tahun ini telah
membuka gerainya yang ke-78, angka ini sekaligus menunjukkan secara tidak
langsung bahwa Hypermart masih memiliki posisi yang kuat dalam persaingannya
dengan perusahaan-perusahaan yang lain, sehingga masih mampu untuk terus
memperluas kerajaan bisnisnya di Indonesia.
Dalam persaingan antar perusahaan sejenis ini,
keunikan, tingkat pelayanan, produksi produk sendiri, pengelolaan manajemen,
keamanan serta kemudahan merupakan poin-poin penting yang menjadi kunci
persaingan utama dalam menarik hati pelanggan, sebab dari segi persediaan/jenis
produk yang ditawarkan/diperjual belikan adalah cenderung sama.
2. ANCAMAN CALON PENDATANG BARU (THREAT OF NEW
ENTRANTS)
Di dalam bisnis retail supermarket ini, bukan
rahasia umum lagi bahwa persaingan yang terjadi begitu ketat. Terlebih dengan
ancaman akan hadirnya calon pendatang baru yang dapat semakin meramaikan
persaingan yang telah ada. Namun, bagi pihak calon pendatang baru itu sendiri
tidaklah mudah untuk dapat masuk begitu saja ke dalam industri/bisnis retail
ini. Untuk memasuki industri/bisnis retail supermarket ini, pendatang baru
dihadapkan pada keharusannya untuk mampu menyetarakan diri atau bahkan
mengungguli perusahaan-perusahaan yang telah terlebih dahulu menggeluti bisnis
ini, agar tidak kalah saing dan agar bisnisnya mampu berkembang. Dibutuhkan
modal yang besar dan strategi yang efektif, serta dibutuhkan suatu “keunikan”
yang harus dimiliki pendatang baru ini agar antara perusahaannya dengan
perusahaan yang lain yang sudah terlebih dahulu berada didalam bisnis retail
supermarket ini dapat memiliki suatu perbedaan,
yang mana perbedaan tersebut tentunya merupakan perbedaan yang menguntungkan
bagi pihaknya. Contohnya saja perusahaan retail supermarket yang telah ada saat
ini, seperti Carrefour, Hero, Giant, dan Lotte Mart. Seperti yang telah
dijelaskan dalam analisa persaingan antar perusahaan diatas, bahwa tidak ada
suatu perbedaan yang signifikan antara perusahaan-perusahaan tersebut dengan
Hypermart. Mayoritas perusahaan-perusahaan tersebut menjual produk yang sama;
meski terkadang ada yang menjual produk-produk impor dari suatu negara khusus
seperti Lotte Mart yang menyediakan aneka ragam produk impor dari Korea. Dari
hal tersebut, kita sudah dapat melihat satu kesulitan yang akan di alami calon
pendatang baru dalam hal menjual produk yang mayoritas sama namun harus menang
dalam persaingan. Selain hal-hal tersebut, pemilihan lokasi juga menjadi suatu
kunci penting bagi pendatang baru untuk menentukan perkembangan bisnisnya.
3. ANCAMAN PRODUK PENGGANTI (THREAT OF SUBSTITUTE
PRODUCT OR SERVICES)
Pada bisnis retail supermarket, ancaman produk
pengganti atau substitusi dapat dikatakan
bersifat “cukup kuat” karena
sudah terdapat jauh sebelum adanya
industri ritel modern. Ancaman produk pengganti ini berasal dari pasar dan juga toko tradisional. Yang mana
menyediakan berbagai kebutuhan pokok yang diperlukan oleh para konsumen untuk kehidupan
sehari-hari seperti sembako, makanan kecil, minuman ringan,
peralatan/perlengkapan rumah tangga, dan lain-lain. Keunggulan dari adanya
pasar dan toko tradisional ini adalah
harganya yang relatif lebih murah dan juga lokasinya yang lebih dekat dengan
tempat tinggal para penduduk terutama bagi kalangan menengah ke bawah. Oleh
karena itu peritel modern seperti Hypermart ini menentukan segmentasi pasarnya
sendiri, yaitu untuk kalangan menengah ke atas. Selain itu adanya produk
pengganti lain yang mulai berkembang saat ini, yaitu berupa sistem ritel dan
berbelanja melalui saluran telepon,
internet, maupun catalogue shopping.
4. KEKUATAN TAWAR MENAWAR PEMASOK (BARGAINING POWER
OF SUPPLIERS)
Kekuatan posisi supermarket Hypermart lebih lemah
dibandingkan dengan pemasoknya. Hal ini dikarenakan Hypermart merupakan
terwaralaba dari PT. Matahari Putra Prima, dengan demikian supply barang
Hypermart seratus persen berasal dari PT. Matahari Putra Prima dengan beberapa
suppliers yang sudah ditentukan sebelumnya, yaitu ≥ 850 pemasok. Dalam hal ini,
Hypermart memiliki posisi baik dalam menentukan produk yang akan dijualnya.
Dilihat dari jumlah pemasok yang banyak, pembelian barang dengan skala yang
besar, produk pemasok pun terdiferensiasi secara merata.
5. KEKUATAN TAWAR MENAWAR PEMBELI (BARGAINING POWER
OF BUYERS)
Kekuatan posisi tawar menawar dari pembeli bersifat
“kuat” karena mereka biasanya cenderung tidak loyal pada satu ritail tertentu dan dengan mudahnya
merubah pola kebiasaan berbelanja sesuai dengan keinginan mereka. Dalam
penjualan produknya, perusahaan yang bergerak di bisnis retail supermarket
seperti Hypermart ini menempatkan posisi konsumennya sebagai konsumen akhir,
sehingga konsumennya pun menjadi prioritas utama yang memegang kekuatan.
Perusahaan harus menetapkan harga yang tepat serta pelayanan yang tepat pula
untuk para konsumennya, guna memberikan kepuasan bagi para konsumennya
tersebut. Kekuatan yang dimiliki pembeli mampu memaksa harga untuk turun dan
meningkatnya pelayan dan kualitas oleh perusahaan. Dalam penetapan harga,
Hypermart tidak secara langsung menentukan harga, harga sepenuhnya ditentukan
oleh para pemasoknya dan harga yang ditawarkan merupakan harga yang bersifat
tetap dan tidak dapat ditawar lagi. Maka, dalam hal ini kekuatan tawar menawar
pembeli dapat dikatakan tidak berpengaruh atau rendah.
Selain Five Forces Michael A. Porter juga
mengintrodusir 3 jenis strategi generik, yaitu: Keunggulan Biaya (Cost
Leadership), Pembedaan Produk (Differentiation), dan Focus.
1. Strategi Biaya Rendah (cost leadership)
Strategi Biaya Rendah (cost leadership) menekankan
pada upaya memproduksi produk standar (sama dalam segala aspek) dengan biaya
per unit yang sangat rendah. Produk ini (barang maupun jasa) biasanya ditujukan
kepada konsumen yang relatif mudah terpengaruh oleh pergeseran harga (price
sensitive) atau menggunakan harga sebagai faktor penentu keputusan. Dari sisi
perilaku pelanggan, strategi jenis ini amat sesuai dengan kebutuhan pelanggan
yang termasuk dalam kategori perilaku low-involvement, ketika konsumen tidak
(terlalu) peduli terhadap perbedaan merek, (relatif) tidak membutuhkan
pembedaan produk, atau jika terdapat sejumlah besar konsumen memiliki kekuatan
tawar-menawar yang signifikan.
Terutama dalam pasar komoditi, strategi ini tidak
hanya membuat perusahaan mampu bertahan terhadap persaingan harga yang terjadi
tetapi juga dapat menjadi pemimpin pasar (market leader) dalam menentukan harga
dan memastikan tingkat keuntungan pasar yang tinggi (di atas rata-rata) dan
stabil melalui cara-cara yang agresif dalam efisiensi dan kefektifan biaya.
Sumber dari keefektifan biaya (cost effectiveness) ini bervariasi. Termasuk di
dalamnya adalah pemanfaatan skala ekonomi (economies of scale), investasi dalam
teknologi yang terbaik, sharing biaya dan pengetahuan dalam internal
organisasi, dampak kurva pembelajaran dan pengalaman (learning and experience
curve), optimasi kapasitas utilitas, dan akses yang baik terhadap bahan baku
atau saluran distribusi. Pada prinsipnya, alasan utama pelaksanaan strategi
integrasi ke hulu (backward integration), ke hilir (forward integration),
maupun ke samping (horizontal integration) adalah untuk memperoleh berbagai
keuntungan dari strategi biaya rendah ini. Biasanya strategi ini dijalankan
beriringan dengan strategi diferensiasi.
Untuk dapat menjalankan strategi biaya rendah,
Hypermart harus mampu memenuhi persyaratan di dua bidang, yaitu: sumber daya
(resources) dan organisasi. Strategi ini hanya mungkin dijalankan jika dimiliki
beberapa keunggulan di bidang sumber daya perusahaan, yaitu: kuat akan modal,
trampil pada rekayasa proses (process engineering), pengawasan yang ketat,
mudah diproduksi, serta biaya distribusi dan promosi rendah. Sedangkan dari
bidang organisasi, perusahaan harus memiliki: kemampuan mengendalikan biaya
dengan ketat, informasi pengendalian yang baik, insentif berdasarkan target
(alokasi insentif berbasis hasil).
Tahun 2004 menjadi sebuah awal bagi inovasi PT
Matahari yang diimplementasikan melalui pembukaan gerai Hypermart yang pertama
di WTC Serpong. Dengan mengusung konsep belanja “Muraaah Banget” berbalut
suasana yang nyaman, Hypermart sukses berekspansi di hampir seluruh wilayah
Indonesia.
Sejauh ini dalam strategi biaya rendah Hypermart
sudah termasuk terjangkau dengan promo-promo. Dan juga Hypermart mempunyai
barang produk buatannya sendiri yaitu "Value Plus: yang bisa bersaing
harga dengan merk-merk terkenal lainnya. Dan memang "Low Price And
More" adalah tagline mereka untuk bersaing dengan retailer lainnya.
2. Strategi Pembedaan Produk (differentiation)
Strategi Pembedaan Produk (differentiation),
mendorong perusahaan untuk sanggup menemukan keunikan tersendiri dalam pasar
yang jadi sasarannya. Keunikan produk (barang atau jasa) yang dikedepankan ini
memungkinkan suatu perusahaan untuk menarik minat sebesar-besarnya dari
konsumen potensialnya. Cara pembedaan produk bervariasi dari pasar ke pasar,
tetapi berkaitan dengan sifat dan atribut fisik suatu produk atau pengalaman
kepuasan (secara nyata maupun psikologis) yang didapat oleh konsumen dari
produk tersebut. Berbagai kemudahan pemeliharaan, features tambahan,
fleksibilitas, kenyamanan dan berbagai hal lainnya yang sulit ditiru lawan
merupakan sedikit contoh dari diferensiasi. Strategi jenis ini biasa ditujukan
kepada para konsumen potensial yang relatif tidak mengutamakan harga dalam
pengambilan keputusannya (price insensitive).
Perlu diperhatikan bahwa terdapat berbagai tingkatan
diferensiasi. Diferensiasi tidak memberikan jaminan terhadap keunggulan
kompetitif, terutama jika produk-produk standar yang beredar telah (relatif)
memenuhi kebutuhan konsumen atau jika kompetitor/pesaing dapat melakukan peniruan
dengan cepat. Contoh penggunaan strategi ini secara tepat adalah pada produk
barang yang bersifat tahan lama (durable) dan sulit ditiru oleh pesaing.
Resiko lainnya dari strategi ini adalah jika
perbedaan atau keunikan yang ditawarkan produk tersebut ternyata tidak dihargai
(dianggap biasa) oleh konsumen. Jika hal ini terjadi, maka pesaing yang
menawarkan produk standar dengan strategi biaya rendah akan sangat mudah
merebut pasar. Oleh karenanya, dalam strategi jenis ini, kekuatan departemen
Penelitian dan Pengembangan sangatlah berperan.
Pada umumnya strategi biaya rendah dan pembedaan
produk diterapkan perusahaan dalam rangka mencapai keunggulan bersaing
(competitive advantage) terhadap para pesaingnya pada semua pasar.
Secara umum, terdapat dua bidang syarat yang harus
dipenuhi ketika perusahaan memutuskan untuk memanfaatkan strategi ini, yaitu:
bidang sumber daya (resources) dan bidang organisasi. Dari sisi sumber daya
perusahaan, maka untuk menerapkan strategi ini dibutuhkan kekuatan-kekuatan yang
tinggi dalam hal: pemasaran produk, kreativitas dan bakat, perekayasaan produk
(product engineering), riset pasar, reputasi perusahaan, distribusi, dan
ketrampilan kerja. Sedangkan dari sisi organisasi, perusahaan harus kuat dan
mampu untuk melakukan: koordinasi antar fungsi manajemen yang terkait, merekrut
tenaga yang berkemampuan tinggi, dan mengukur insentif yang subyektif di
samping yang obyektif.
Hypermart layaknya perusahaan retail seperti
biasanya menjual produk-produk kebutuhan rumah tangga. Tetapi disini ternyata
Hypermart sangat fokus terhadap Multi Format Food Retail. Dengan memasukan
banyak produk-produk makanan secara import Hypermart bisa dikatakan lengkap
dalam urusan makanan dibandingkan yang lain. ini menjadi keunggulan yang
dimiliki Hypermart di usianya yang ke 8
3. Strategi Fokus (focus)
Strategi fokus digunakan untuk membangun keunggulan
bersaing dalam suatu segmen pasar yang lebih sempit. Strategi jenis ini
ditujukan untuk melayani kebutuhan konsumen yang jumlahnya relatif kecil dan
dalam pengambilan keputusannya untuk membeli relatif tidak dipengaruhi oleh
harga. Dalam pelaksanaannya – terutama pada perusahaan skala menengah dan besar
–, strategi fokus diintegrasikan dengan salah satu dari dua strategi generik
lainnya: strategi biaya rendah atau strategi pembedaan karakteristik produk.
Strategi ini biasa digunakan oleh pemasok “niche market” (segmen khusus/khas
dalam suatu pasar tertentu; disebut pula sebagai ceruk pasar) untuk memenuhi
kebutuhan suatu produk — barang dan jasa — khusus.
Syarat bagi penerapan strategi ini adalah adanya
besaran pasar yang cukup (market size), terdapat potensi pertumbuhan yang baik,
dan tidak terlalu diperhatikan oleh pesaing dalam rangka mencapai
keberhasilannya (pesaing tidak tertarik untuk bergerak pada ceruk tersebut).
Strategi ini akan menjadi lebih efektif jika konsumen membutuhkan suatu
kekhasan tertentu yang tidak diminati oleh perusahaan pesaing. Biasanya
perusahaan yang bergerak dengan strategi ini lebih berkonsentrasi pada suatu
kelompok pasar tertentu (niche market), wilayah geografis tertentu, atau produk
— barang atau jasa — tertentu dengan kemampuan memenuhi kebutuhan konsumen
secara baik, excellent delivery.
Dari pengertian di atas, fokus perusahaan Hypermart ini kepada
segmentasi masyarakat yang mempunyai keputusan pembelian berdasarkan murahnya
harga atau menengah ke atas. Dengan tagline mereka yaitu "Low Price And
More" menegaskan bahwa Hypermart adalah perusahaan retail yg mempunyai
harga jual rendah tetapi juga lengkap memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Comments
Post a Comment