Menurut Soerjono Soekanto masalah sosial
adalah suatu ketidak sesuaian antara unsur-unsur kebudayaan atau masyarakat,
yang membahayakan kehidupan kelompok sosial. jika terjadi bentrokan antara
unsur-unsur yang dapat menimbulkan gangguan hubungan sosial seperti kegoyahan
dalam kehidupan kelompok atau masyarakat.
Masalah sosial muncul akibat terjadinya
perbedaan yang mencolok antara nilai dalam masyarakat dengan realita yang ada.
yang dapat menjadi sumber masalah sosial yaitu seperti proses sosial dan
bencana alam.
adanya masalah sosial dalam masyarakat
ditetapkan oleh lembaga yang memiliki kewenangan khusus seperti tokoh
masyarakat, pemerintah, organisasi sosial, musyawarah masyarakat, dan lain
sebagainya.
Masalah sosial dapat dikategorikan menjadi 4 (empat) jenis klasifikasi, yakni antara lain :
1. Faktor Ekonomi : Kemiskinan,
pengangguran, dll.
2. Faktor Budaya : Penceraian, kenakalan
remaja, dll.
3. Faktor Biologis : Penyakit menular,
keracunan makanan, dsb.
4. Faktor psikologis : Penyakit syaraf,
aliran sesat, dsb.
Masalah sosial menemui pengertiaannya sebagai sebuah kondisi yang tidak diharapkan dan dianggap dapat merugikan kehidupan sosial serta bertentangan dengan standar sosial yang telah disepakati. Keberadaan masalah sosial ditengah kehidupan masyarakat dapat diketahui secara cermat melalui beberapa proses dan tahapan analitis, yang salah satunya berupa tahapan diagnosis. Dalam mendiagnosis masalah sosial diperlukan sebuah pendekatan sebagai perangkat untuk membaca aspek masalah secara konseptual. Eitzen membedakan adanya dua pendekatan yaitu person blame approach dan system blame approach (hlm. 153).
Person blame approach merupakan suatu
pendekatan untuk memahami masalah sosial pada level individu. Diagnosis masalah
menempatkan individu sebagai unit analisanya. Sumber masalah sosial dilihat
dari faktor-faktor yang melekat pada individu yang menyandang masalah. Melalui
diagnosis tersebut lantas bisa ditemukan faktor penyebabnya yang mungkin
berasal dari kondisi fisik, psikis maupun proses sosialisasinya.
Sedang pendekatan kedua system blame
approach merupakan unit analisis untuk memahami sumber masalah pada level
sistem. Pendekatan ini mempunyai asumsi bahwa sistem dan struktur sosial lebih
dominan dalam kehidupan bermasyarakat. Individu sebagai warga masyarakat tunduk
dan dikontrol oleh sistem. Selaras dengan itu, masalah sosial terjadi oleh
karena sistem yang berlaku didalamnya kurang mampu dalam mengantisipasi
perubahan-perubahan yang terjadi, termasuk penyesuaian antar komponen dan unsur
dalam sistem itu sendiri.
Dari kedua pendekatan tersebut dapat
diketahui, bahwa sumber masalah dapat ditelusuri dari ”kesalahan" individu
dan "kesalahan" sistem. Mengintegrasikan kedua pendekatan tersebut
akan sangat berguna dalam rangka melacak akar masalah untuk kemudian dicarikan
pemecahannya. Untuk mendiagnosis masalah pengangguran misalnya, secara lebih
komprehensif tidak cukup dilihat dari faktor yang melekat pada diri penganggur
saja seperti kurang inovatif atau malas mencari peluang, akan tetapi juga perlu
dilihat sumbernya masalahnya dari level sistem baik sistem pendidikan, sistem
produksi dan sistem perokonomian atau bahkan sistem sosial politik pada tingkat
yang lebih luas.
Anak jalanan: Dilema? Sebenarnya
isltilah anak jalanan pertama kali diperkenalkan di Amerika Selatan atau
Brazilia yang digunakan bagi kelompok anak-anak yang hidup dijalanan umumnya
sudah tidak memiliki ikatan tali dengan keluarganya.Anak-anak pada kategori ini
pada umumnya sudah terlibat pada aktivitas-aktivitas yang berbau criminal. Kelompok
ini juga disebut dalam istilah kriminologi sebagai anak-anak dilinguent.
Istilah ini menjadi rancu ketika dicoba digunakan di negara berkembang lainnya
yang pada umumnya mereka masih memiliki ikatan dengan keluarga. UNICEF kemudian
menggunakan istilah hidup dijalanan bagi mereka yang sudah tidak memiliki
ikatan keluarga, bekerja dijalanan bagi mereka yang masih memiliki ikatan
dengan keluarga. Di Amerika Serikat juga dikenal istilah Runauay children yang
digunakan bagi anak-anak yang lari dari orang tuanya.
Walaupun pengertian anak jalanan
memiliki konotasi yang negatif di beberapa negara, namun pada dasarnya dapat
juga diartikan sebagai anak-anak yang bekerja dijalanan yang bukan hanya
sekedar bekerja di sela-sela waktu luang untuk mendapatkan penghasilan,
melainkan anak yang karena pekerjaannya maka mereka tidak dapat tumbuh dan
berkembang secara wajar baik secara jasmnai, rohani dan intelektualnya. Hal ini
disebabkan antara lain karena jam kerja panjang, beban pekerjaan, lingkungan
kerja dan lain sebagainya.
Anak jalanan ini pada umumnya bekerja
pada sector informal. Phenomena munculnya anak jalanan ini bukanlah karena
adanya transformasi system social ekonomi dan masyarakat pertanian ke
masyarakat pra-industri atau karena proses industrialisasi. Phenomena ini
muncul dalam bentuk yang sangat eksploratif bersama dengan adanya transformasi
social ekonomi masyarakat industrialsasi menuju masyarakat yang kapitalistik.
Kaum marjinal ini selanjutnya mengalami
distorsi nilai, diantaranta nilai tentang anak. Anak, dengan demikian bukan
hanya dipandang sebagai beban, tetapi sekaligus dipandang sebagai factor
ekonomi yang bisa dipakai untuk mengatasi masalah ekonomi keluarga. Dengan
demikian, nilai anak dalam pandangan orang tua atau keluarga tidak lagi dilihat
dalam kacamata pendidikan, tetapi dalam kepentingan ekonomi. Sementara itu,
nilai pendidikan dan kasih saying semakin menurun. Anak dimotivasi untuk
bekerja dan menghasilkan uang.
Dalam konteks permasalahan anak jalanan,
masalah kemiskinan dianggap sebagai penyebab utama timbalnya anak jalanan ini.
Hal ini dapat ditemukan dari latar belakang geografis, social ekonomi anak yang
memang datang dari daerah-daerah dan keluarga miskin di pedesaan maupun kantong
kumuh perkotaan. Namun, mengapa mereka tetap bertahan, dan terus saja
berdatangan sejalan dengan pesatnya laju pembangunan?
Ada banyak teori yang bisa menejlaskan
kontradiksi-kontradiksi antara pembangunan dan keadilan-pemerataan, desa dan
kota, kutub besar dan kutub kecil, sehingga lebih jauh bia terpetakan lebih
jela persoalan hak asasi anak. Meskipun demikian, kemiskinan bukanlah
satu-satunya factor penyebab timbulnya masalah anak jalanan. Dengan demikian,
adanya sementara anggapan bahwa masalah anak jalanan akan hilang dengan
sendirinya bila permasalahan kemiskinan ini telah dapat diatasi, merupakan
pandangan keliru.
Masyarakat Dan Negara :
Parillo menyatakan, kenyataan paling
mendasar dalam kehidupan sosial adalah bahwa masyarakat terbentuk dalam suatu
bangunan struktur. Melalui bangunan struktural tertentu maka dimungkinkan
beberapa individu mempunyai kekuasaan, kesempatan dan peluang yang lebih baik
dari individu yang lain (hlm. 191). Dari hal tersebut dapat dimengerti apabila
kalangan tertentu dapat memperoleh manfaat yang lebih besar dari kondisi sosial
yang ada sekaligus memungkinkan terpenuhinya segala bentuk kebutuhan, sementara
dipihak lain masih banyak yang kekurangan.
Masalah sosial sebagai kondisi yang
dapat menghambat perwujudan kesejahteraan sosial pada gilirannya selalu
mendorong adanya tindakan untuk melakukan perubahan dan perbaikan. Dalam
konteks tersebut, upaya pemecahan sosial dapat dibedakan antara upaya pemecahan
berbasis negara dan berbasis masyarakat. Negara merupakan pihak yang sepatutnya
responsif terhadap keberadaan masalah sosial. Perwujudan kesejahteraan setiap
warganya merupakan tanggung jawab sekaligus peran vital bagi keberlangsungan
negara. Di lain pihak masyarakat sendiri juga perlu responsif terhadap masalah
sosial jika menghendaki kondisi kehidupan berkembang ke arah yang semakin baik.
Salah satu bentuk rumusan tindakan
negara untuk memecahkan masalah sosial adalah melalui kebijakan sosial. Suatu
kebijakan akan dapat dirumuskan dengan baik apabila didasarkan pada data dan
informasi yang akurat. Apabila studi masalah sosial dapat memberikan informasi
yang lengkap dan akurat maka bararti telah memberikan kontribusi bagi perumusan
kebijakan sosial yang baik, sehingga bila diimplementasikan akan mampu
menghasilkan pemecahan masalah yang efektif.
Upaya pemecahan sosial sebagai muara
penanganan sosial juga dapat berupa suatu tindakan bersama oleh masyarakat
untuk mewujudkan suatu perubahan yang sesuai yang diharapkan. Dalam teorinya
Kotler mengatakan, bahwa manusia dapat memperbaiki kondisi kehidupan sosialnya
dengan jalan mengorganisir tindakan kolektif. Tindakan kolektif dapat dilakukan
oleh masyarakat untuk melakukan perubahan menuju kondisi yang lebih sejahtera.
sumber :
http://organisasi.org/definisi-pengertian-masalah-sosial-dan-jenis-macam-masalah-sosial-dalam-masyarakat
http://id.shvoong.com/books/1866293-masalah-sosial-dan-upaya-pemecahannya/
Comments
Post a Comment